Hari masih pagi. Jam tangan saya menunjukkan pukul 06.12 WIB.
Sambil menikmati udara pagi, saya membuka WhatsApp. Belum sempat membaca pesan-pesan semalam, tiba-tiba muncul chat baru dari seseorang yang belakangan ini mulai terkenal dengan julukan Spiderman.
“Susu kedelai, bapak-ibu….”
Saya tersenyum. Rupanya pagi itu Spiderman sedang cuti dari pekerjaan mengecat gerbang. Hari ini ia membuka lapak.
“Yang kemasan plastik kiloan Rp10.000. Yang kemasan botol Rp5.000 dapat dua botol.”
Belum sampai satu menit, pesanan mulai berdatangan. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menjadi pelanggan pertama.
“Plastik kiloan dua, Pak.”
Tak lama kemudian guru Matematika ikut menyusul.
“Mau satu kilogram.”
Ibu Kepala Sekolah rupanya tidak mau kehabisan.
“Yang plastik kiloan dua juga, ya.”

Grup WhatsApp sekolah yang biasanya dipenuhi informasi mendadak berubah menjadi pasar pagi. Guru Bahasa Inggris pun ikut mengirim pesan.
“Saya satu.”
Beberapa detik kemudian muncul chat baru darinya.
“Kiloan.”
Barangkali beliau khawatir pesan sebelumnya bisa ditafsirkan macam-macam. Kalau tidak segera dilengkapi, siapa tahu nanti yang datang justru satu botol.
Tak lama kemudian, sang pemilik lapak membalas singkat.
“Sampun, Bu….”
Sesederhana itu. Pagi belum benar-benar sibuk. Bel berbunyi pun masih lama.
Namun, grup WhatsApp sudah lebih dulu ramai oleh transaksi susu kedelai.
Begitulah kehidupan di sekolah. Kadang pagi diawali dengan rapat. Kadang diawali dengan informasi.
Dan kadang… Diawali oleh seorang Spiderman yang mendadak membuka lapak.
Kalau besok pagi muncul chat,
“Bapak-ibu… ada tempe hangat…”

Saya rasa tidak akan ada yang heran lagi. Sebab di sekolah kami, Spiderman memang tidak hanya pandai memanjat gerbang. Ia juga pandai mencari cara agar pagi terasa lebih hangat.
7 Agustus 2026
Kisah-kisah Kecil #026 @Rus Tuba
satu Respon
😊