Dari Budaya 5S hingga Selembar Uang Sepuluh Ribu, Pesan Menarik dalam Upacara Rutin Spensapeta

Lensaspensa, Penawartama – Ada yang menarik dalam pelaksanaan upacara bendera di SMPN 1 Penawartama, Senin, 12 Oktober 2026. Selain mengajak peserta didik membudayakan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (5S), pembina upacara juga memberikan pelajaran sederhana tentang pentingnya kemauan yang disertai tindakan.

Kepala Sekolah, Suprihatin, S.Pd. bersama dewan guru dan tendik mengikuti upacara bendera.

Upacara yang dilaksanakan di halaman sekolah tersebut menghadirkan Theodorus Febri Christian, S.Pd. sebagai pembina upacara, sedangkan petugas upacara berasal dari kelas VIII.6.

Mengawali amanatnya, pembina upacara menyampaikan apresiasi kepada para petugas upacara yang telah melaksanakan tugasnya. Selanjutnya, beliau mengajak seluruh peserta upacara untuk memahami pentingnya membangun budaya positif di lingkungan sekolah.

Budaya 5S Dimulai dari Diri Sendiri

“Anak-anak, siapa yang tahu, apa kepanjangan dari 5S?” tanyanya kepada peserta upacara.

Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pengantar untuk mengingatkan kembali pentingnya membiasakan Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, budaya 5S perlu ditanamkan dan dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah. Bukan sekadar slogan yang dihafalkan, melainkan kebiasaan yang benar-benar diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

Salah satu contohnya adalah ketika peserta didik berpapasan dengan guru di lingkungan sekolah.

Para petugas upacara kelas VIII.6 asuhan wali kelas M. Ari Wibowo, S.Pd. berfose bersama
setelah melaksanakan tugas dengan baik.

“Ketika kalian berpapasan dengan Bapak dan Ibu Guru, biasakan tersenyum dan menyapa. Bukannya menghindar. Memangnya kami menakutkan?” katanya bergurau.

Pesan tersebut sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan peserta didik. Terkadang, ada anak yang memilih menghindar ketika berpapasan dengan guru. Padahal, senyum dan sapaan ramah justru dapat menjadi awal terbangunnya hubungan yang hangat dan saling menghormati.

Budaya 5S juga tidak hanya berlaku ketika peserta didik bertemu guru. Kebiasaan tersebut perlu diterapkan ketika berinteraksi dengan teman, tenaga kependidikan, maupun siapa saja yang berada di lingkungan sekolah.

Sebab, sekolah yang nyaman bukan hanya dibangun melalui fasilitas yang baik, melainkan juga melalui sikap ramah dan saling menghargai di antara warganya.

Selembar Uang Sepuluh Ribu yang Mengajarkan Sesuatu

Ada kejadian menarik menjelang akhir amanat pembina upacara.

Pak Theo – sapaannya, mengeluarkan selembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Uang tersebut kemudian diacungkannya di hadapan peserta upacara.

“Siapakah yang mau?” tanyanya.

Tidak perlu menunggu lama. Seorang peserta didik segera berlari menuju mimbar. Tanpa banyak kata, pembina upacara menyerahkan uang tersebut kepada anak yang telah menghampirinya.

Peristiwa singkat itu ternyata bukan sekadar kegiatan membagikan uang.

Melalui contoh tersebut, pembina upacara ingin menyampaikan pesan bahwa kemauan saja tidak cukup apabila tidak disertai usaha dan tindakan nyata.

Boleh jadi banyak peserta didik menginginkan uang tersebut. Namun, anak yang berani bergerak dan menghampiri pembina upacaralah yang akhirnya mendapatkannya.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan untuk memperoleh nilai baik, meraih prestasi, atau menjadi pribadi yang lebih baik harus diikuti dengan langkah nyata.

Ingin pandai, tentu harus belajar. Ingin berprestasi, harus mau berlatih. Ingin berhasil, harus berani memulai dan berusaha.

Kemauan merupakan awal, tetapi tindakanlah yang membuat kemauan itu memiliki arti.

Membiasakan Sikap Baik, Berani Melangkah

Amanat pembina upacara pagi itu menghadirkan dua pesan yang saling melengkapi.

Pertama, pentingnya membangun budaya 5S sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Kedua, pentingnya keberanian untuk bertindak dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita.

Keduanya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Tersenyum ketika bertemu guru, menyapa dengan ramah, berbicara santun, mengerjakan tugas, hingga berani mencoba sesuatu yang positif.

Melalui pembiasaan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan, tetapi juga berkarakter baik, percaya diri, dan memiliki semangat untuk terus berkembang.

Upacara Senin itu pun meninggalkan sebuah pelajaran: senyum dan sapaan tidak membutuhkan biaya, sedangkan kemauan yang disertai tindakan bisa menghasilkan sesuatu yang berharga.

Dan pagi itu, selembar uang sepuluh ribu rupiah telah membantu menyampaikan pesan tersebut.

SPENSAPETA BISA! (Rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *