Bel pulang sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Sebagian besar murid telah meninggalkan sekolah. Suasana mulai lengang.
Saya bersama beberapa guru masih mengobrol santai di ruang guru.
Tiba-tiba pintu terbuka.
“Bapak-bapak, tidak tahu ada kejadian di kelas VIII?” suara Ibu Kepala Sekolah membuat kami serentak menoleh.
“Ada apa, Bu?” tanya kami hampir bersamaan.
“Ada anak memasukkan jarinya ke lubang meja. Sekarang tidak bisa dicabut.”
“Apa…?”
Kami saling berpandangan.
Tanpa banyak bicara, saya segera bergegas menuju kelas.
Sesampainya di lokasi, suasana sudah ramai. Beberapa murid berdiri mengelilingi seorang anak perempuan. Wakil Kepala Sekolah dan Pembina OSIS sudah berada di sana.
Saya mendekat.
Seorang siswi tampak meringis menahan sakit. Jari tengah tangan kanannya terjebak di lubang pada daun meja kayu. Wajahnya tegang. Teman-temannya ikut cemas.
Berbagai cara sudah dicoba.
Jari diputar perlahan.
Ditarik pelan-pelan.
Bahkan diberi sedikit pelumas.
Namun hasilnya tetap sama.
Jari itu seolah enggan berpisah dengan meja.
Beberapa guru mulai saling berpandangan, mencari jalan keluar.
Tidak lama kemudian, Pak Penjaga Sekolah datang tergesa-gesa sambil membawa sebuah gergaji.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
Beberapa murid tampak melongo.
“Lho, Pak… mau ngapain?” tanya seorang murid dengan wajah panik.
Pak Guru BK segera mengambil gergaji itu sambil tersenyum.
“Tenang….”
Beliau berhenti sejenak.
“Yang digergaji mejanya… bukan jarinya.”
Seketika suasana yang sejak tadi tegang berubah menjadi riuh oleh tawa.
Pak Penjaga Sekolah dan beberapa guru mulai menggergaji bagian meja di sekitar lubang dengan sangat hati-hati. Semua bergerak perlahan. Tidak boleh tergesa-gesa.
Keselamatan anak menjadi prioritas.
Beberapa menit kemudian…
Jari diputar, ditarik maju-mundur.
Kini jari mungil itu masih berada di dalam lobang kayu, tetapi sudah agak longgar.
“Ditarik lagi … Pelan-pelan….”
Semua menahan napas.
Lagi …
Perlahan jari itu diputar sedikit.
Lalu…
Pluk…
Jari itu akhirnya keluar.
Alhamdulillah.
Ruangan spontan dipenuhi tepuk tangan.
Siswi itu mengusap jarinya sambil tersenyum lega. Wajah yang tadi menahan sakit kini kembali ceria.
Seseorang memandangi meja yang kini berlubang lebih besar.
“Mejanya jadi korban,” celetuknya.
Tawa pun kembali pecah.
Dalam perjalanan pulang, peristiwa kecil itu terus terbayang di benak saya.
Sering kali kita mengira setiap persoalan harus diselesaikan dengan menarik sekuat tenaga.
Padahal, kadang yang perlu diubah bukan orangnya.
Melainkan “meja”-nya.
Dalam mendidik anak pun demikian.
Ketika cara lama tidak lagi berhasil, mungkin bukan anaknya yang harus dipaksa berubah.
Mungkin kitalah yang perlu mengubah pendekatan, mencari jalan lain, atau rela “memotong” cara-cara lama agar masalah dapat diselesaikan tanpa melukai siapa pun.
Untunglah sore itu yang “berkorban” hanyalah sepotong meja.
Sementara seorang anak pulang ke rumah dengan jari yang utuh… dan sebuah cerita yang hampir pasti akan dikenang sepanjang hidupnya.
20 Juli 2026
Kisah-kisah Kecil Catatan dari Rumah Guru #… @Rus Tuba
2 Responses
Keren banget pak Rus
Wat wat gawoh ya paaakk wkwkwkwk