Kamis, hari keempat MPLS. Sejak pukul 06.30 sekolah sudah ramai dengan aktivitas rutin. Pada jam ke-0 itu, masing-masing guru dan tenaga kependidikan sudah mulai beraktivitas.
Jam ke-0 adalah jam pembiasaan yang dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Tujuannya utamanya adalah membentuk karakter murid.
Saya dan beberapa guru menyambut anak-anak di gerbang sekolah. Guru yang lain menyebar. Ada yang menyapu halaman kantor. Bahkan ada juga yang menyapu halaman di depan kelas.
Ketika seorang ibu guru menyapu melewati kerumunan anak-anak kelas 7, mereka spontan berkata,
“Awas… awas… kena debu…”
Mereka bergeser agar tidak terkena debu, sementara tidak ada satu pun yang terpikir untuk membantu mengambil sapu. Bu guru tetap meneruskan pekerjaannya sambil tersenyum tipis.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat saya berpikir. Di hadapan puluhan murid yang sedang menyaksikan, ibu guru itu sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu.
Bukan dengan ceramah. Bukan pula dengan nasihat yang panjang. Beliau sedang memberi contoh. Contoh bahwa lingkungan yang bersih tidak datang dengan sendirinya.
Ada tangan-tangan yang rela memegang sapu. Ada orang-orang yang memilih bekerja lebih dahulu agar orang lain dapat menikmati hasilnya.
Barangkali, sapu itu tidak hanya sedang mengumpulkan daun-daun kering dan debu. Ia juga sedang menyapu habis anggapan bahwa menjaga kebersihan adalah tugas orang lain.
Saya berharap, suatu hari nanti akan ada seorang murid yang spontan mengambil sapu tanpa harus diminta. Bukan karena takut kepada guru, melainkan karena pernah melihat gurunya melakukan hal yang sama.
Sebab pendidikan karakter sering kali lahir dari keteladanan.
Pagi itu, anak-anak sibuk menghindari debu. Mungkin suatu hari nanti, mereka akan belajar bahwa cara terbaik menghindari debu bukan hanya dengan menyingkir, tetapi juga ikut memegang sapu.
16 Juli 2026 Catatan dari Ruang Guru #001 @Rus Tuba