Jumat sore, suasana di sekolah masih cukup ramai.
Bel pulang memang sudah lama berbunyi. Namun, bagi anak-anak Pramuka, kegiatan belum selesai.
Sore itu mereka sedang mengikuti latihan rutin. Selain mempersiapkan keterampilan kepramukaan, latihan juga difokuskan untuk memantapkan kesiapan menghadapi Kemah Bhakti Pramuka yang akan dilaksanakan pada 12–14 Agustus mendatang.
Guru Spiderman, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Pembina OSIS, serta beberapa guru lainnya tampak setia mendampingi mereka.
Aula menjadi tempat favorit untuk berlatih. Halamannya luas. Terasnya teduh. Anak-anak bebas memilih berlatih di dalam ataupun di luar aula.
Menjelang waktu salat Asar, latihan dihentikan sejenak.
Pak Guru Spiderman dan beberapa guru duduk beristirahat di depan aula sambil mengobrol ringan.
Tiba-tiba dua anak laki-laki menghampiri.
Dari wajah mereka terlihat masih segar. Rupanya keduanya baru selesai berwudu.
Dengan sopan salah seorang bertanya,
“Pak… Bu… musalanya bisa disalatin, nggak?”
Kami saling berpandangan.
Kalimat itu terdengar aneh.
“Musalanya… disalatin?”
Beberapa detik kami hanya melongo.
Yang ingin mereka tanyakan sebenarnya sederhana:
“Pak, musalanya bisa dipakai salat, tidak?”
Namun, karena gugup atau mungkin terburu-buru, susunan kalimatnya berubah.
Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh seorang guru matematika senior.
Dengan wajah datar beliau menjawab,
“Bisa…”
Anak-anak tampak lega.
Beliau melanjutkan,
“Salatnya di luar musalanya.”
Sepersekian detik kemudian…
Hahaha…
Tawa langsung pecah.
Anak-anak ikut tertawa.
Guru-guru pun demikian.
Suasana sore yang tadinya tenang berubah menjadi penuh gelak.
Dalam hati saya tersenyum.
Bahasa memang unik.
Hanya karena satu kata yang kurang tepat, maknanya bisa berubah jauh.
Untunglah sore itu yang berubah hanyalah susunan kalimatnya.
Niat anak-anak tetap sama.
Mereka hanya ingin memastikan bisa menunaikan salat Ashar sebelum pulang.
Dan bagi kami, sore itu bertambah satu lagi cerita kecil yang layak dikenang.
7 Agustus 2026
Kisah-kisah Kecil #027 @Rus Tuba